TariPatuddu juga merupakan tarian yang berasal dari daerah Sulawesi Barat. Tarian ini pada umumnya dibawakan oleh para penari wanita dengan gerakannya yang lemah gemulai. Penari juga akan menggunakan kipas sebagai alat menarinya (properti). Konon, tari Patuddu dahulunya ditampilkan untuk menyambut para prajurit saat pulang dari medan perang. 9 Tari Katrili. Sebagian dari kamu mungkin tahu bahwa tanah Sulawesi juga pernah disinggahi oleh bangsa Spanyol yang berniat membeli rempah-rempah. Tari Katrili inilah salah satu peninggalan bangsa Spanyol tersebut. Penari menari berpasang-pasangan dengan setelan jas dan gaun cantik berwarna-warni. 1 Dengan mengamati gambar peserta didik mampu menyebutkan tarian di daerah Sulawesi 2. Melalui kegiatan diskusi peserta didik mampu membedakan setiap tarian daerah Sulawesi A. PENDAHULUAN ( alokasi waktu : 2 menit) 1. Memulai pembelajaran dengan memberikan salam dan menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa ( Orientasi ) 2. Pakaianadat Sulawesi Barat dari berbagai suku spt: Suku Mandar, Suku Toraja dll. mengandung makna yang dalam. Berikut ini gambar pakaian adat suku Mandar dan penjelasannya. atau tarian, para wanita di Toraja yang terlibat dalam kegiatan tersebut juga mengenakan baju Pokko dengan dipadukan beberapa macam aksesoris. Kain Tenun Khas BeberapaKumpulan Tarian Adat Daerah Sulawesi Selatan Ada banyak sekali tarian daerah ini. Pada kesempatan kali ini kami hanya sampaikan beberapa saja dahulu dan akan kami lakukan penambahan dikemudian hari. Selamat membaca! 1.Tari Adat Pa'gellu Ilustrasi (IndonesiaKaya) QPTnT2. Tarian tradisional daerah Sulawesi Tenggara merupakan budaya Indonesia yang harus terus ada sampai kapan pun juga. Dari Sabang sampai Merauke, beraneka ragam seni tari yang dimiliki sebagai khazanah kekayaan budaya. Tari dari daerah Sulawesi Tenggara lebih banyak dari tarian daerah Sulawesi Barat, selisih sebanyak dua tari. Meski begitu jumlah banyak tidak menentukan seberapa kepedulian daerah menjaga budayanya. Kerjasama pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kelestarian tarian adalah hal yang sangat penting sifatnya. Sama seperti tarian daerah lainnya, tari tradisional Sulawesi Tenggara mempunyai alur cerita juga. Mulai dari cerita perang, menyambut tamu sampai merayakan hari – hari tertentu. Suatu pesan tidak akan lebih menarik jika disampaikan melalui seni. Dan tari adalah media sebagai penyampai pesan tersbeut. Adat atau kebiasaan dalam tarian Sulawesi Tenggara masih ada yang tetap dilakukan masyarakat lokal, namun ada juga tarian yang pelahan mulai ditinggalkan masyarakat. Mungkin fungsi tari yang tidak sesuai lagi. Contohnya, ada tarian yang dahulu hanya dipentaskan untuk keluarga raja saja. Sehingga sifat tarian tidak pantas ditampilkan untuk masyarakat umum. Pada unsur – unsur tari dari dahulu sampai sekarang terjadi perubahan. Ada yang dulu dengan busana sekedarnya, kini harus dengan busana yang standart modern. Begitu juga dengan model panggung dan pencahayaan serta jumlah para penari. Untuk kedepan, kita sangat berharap, tarian daerah yang berasal dari Kendari ibu kota Sulawesi Tenggara terus mendapat perhatian pemerintah pusat dan daerah sehingga bisa menjadi salah satu destinasi wisata objek wisata alternatif bagi para wisatawan asing atau dalam negeri. Baca Tarian Daerah Bali Baiklah, langsuang saja kita bahas satu persatu mengenau tarian tradisional daerah Sulawesi Tenggara. Berikut informasinya. 1. Tari Mangaru2. Tari Malulo3. Tari Umoara4. Tari Mowindahako5. Tari Galangi6. Tari Lariangi7. Tari Lumense8. Tari Moida-ida9. Tari Balumpa10. Tari DingguSebarkan iniPosting terkait 1. Tari Mangaru Tari Mangaru via Youtube Tari Mangaru merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara, tepatnya di Desa Konde Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Cerita yang terkandung pada Tari Mangaru yaitu menggambarkan keberanian laki-laki pada zaman dahulu dalam medan peperangan. Singkatnya, tari ini bercerita tentang dua orang laki-laki di medan peperangan. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana kedua laki-laki yang saling beradu kekuatan dengan menggunakan sebilah keris yang dipegang. Seperti tarian lain, Tari Mangaru juga diiringi oleh alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yaitu kansi-kansi, Mbololo gong dan dua buah Gendang yang terbuat dari kulit binatang. Pada umumnya, Tari Mangaru dipertunjukan dalam berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Saat – saat masyarakat setempat berkumpul ketika ada acara khitanan atau sedang merayakan pesta panen padi. 2. Tari Malulo Tari Malulo via Wikipedia Tari Malulo termasuk kedalam golongan tarian yang berasal dari Sulawesi Tenggara yang disebut tari Lula atau Malulo. Konon, tarian ini awalnya merupakan tarian sakral dan penuh filosofis. Namun dengan seiring berjalannya waktu, berubah menjadi tarian pergaulan atau tarian rakyat. Pertunjukkan tarian ini sekarang biasa dilakukan secara spontan pada setiap acara baik itu acara pesta ataupun acara-acara yang dilaksanakan oleh instansi-instansi atau organisasi. Kesenian Tari Malulo digemari oleh suku bangsa Tolaki dan dipentaskan pada waktu-waktu tertentu. Ketika usai panen atau bila terjangkit suatu wabah penyakit menular tarian ini selalu ditampilkan. Bunyi-bunyian yang disebut Ore-Ore terbaut dari bambu selalu mengiringi tari Malulo. Uniknya, Tari Malulo ini popular di kalangan anak muda karena tarian ini adalah tarian pergaulan. Tarian tradisional ini ditarikan secara beramai-ramai dan berpasang-pasangan. Dimulai oleh sepasang penari yang turun ke dalam gelanggang tari dan diikuti oleh pasangan-pasangan lain menjadi perbedaan dengan tarian lainnya. Baca Rumah Adat Sulawesi Tenggara 3. Tari Umoara Tari Umoara via warisanbudaya Tari Umoara adalah tarian tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara. Muatan ceita tari Umoara adalah cerita perang yang ditarikan untuk menyambut tamu agung pada saat perkawinan para bangsawan dan mengantar jenazah bangsawan. Selain itu, tarian ini juga dipertunjukkan dalam upacara pelantikan seorang raja. Pesan penting yang bisa diambil dari tarian ini yaitu mempertontonkan ketangkasan, kewaspadaan dalam menyerang musuh dengan senjata perang, dan membela diri dalam pertempuran demi harga diri. 4. Tari Mowindahako Tari Mowindahako via WordPress Tari Mowindahako tarian adat tradisional daerah Sulawesi Tenggara. Bersifat ekslusif, tarian ini dilaksanakan hanya bagi bangsawan atau anakia. Yaitu dilaksanakan apabila suatu pinangan mereka sudah diterima. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa senang maka diadakan tarian Mowindahako atau yang dikenal dengan nama lain yaitu tarian membesara. Ada yang menyatakan bahwa tarian ini mirip dengan kegiatan pada saat upacara adat perkawinan. Seperti menggunakan kalo, siwole dan menirukan model percakapan antara juru bicara laki-laki dan wanita. 5. Tari Galangi Tari Galangi via Berikut ini idalah Tari Galangi yang termasuk sebagai tarian tradisional dari daerah Kepulauan Buton Raya Provinsi Sulawesi Tenggara. Tarian ini populer dengan sebutan yang kental dengan nuansa tarian Perang dalam Kerajaan Kesultanan Buton. Tari Galangi merupakan ungkapan dan spontanitas gerakan dalam bentuk tari yang mewujudkan bagaimana penggunaan gala dalam menghadapi atau melawan serangan musuh. Pada waktu damai tarian ini merupakan kelengkapan kebesaran, keagungan serta kemulian Sultan. Tari ini dimainkan untuk mengiringi Sultan pada saat keluar istana dalam suatu tugas atau menyambut dan mengantar tamu Kesultanan. Ada sebelas kelompok pada Tarian Galangi ini terdiri dan tiap kelompok terdiri dari tujuh orang. Berdasarkan sejarahnya, kelompok – kelompok tersebut bertugas untuk mempertahankan Kerajaan/ Kesultanan bila ada serangan dari musuh. Akan tetapi jika dalam keadaan aman, masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda-beda dan diceritakan juga dalam pertunjukan tari. Baca Tarian Daerah Kalimantan Tengah 6. Tari Lariangi Tari Lariangi via Kompas Termasuk kedalam tarian daerah Sulawesi Tenggarah, Tari Lariangi merupakan tarian yang dipertunjukkan sebagai tari pembukaan suatu acara pesta pertemuan sebagai penghormatan terhadap tamu yang hadir. Dalam berbagai kegiatan, selalu ada apresiasi terhadap tamu yang datang, baik tamu dari dalam negeri atau luar negeri. Pada masa lalu, istilah luar negeri belum begitu populer. Biasanya memakai istilah luar kerajaan. Pada pementasannya, tarian ini ditarikan oleh para penari wanita dan satu laki-laki. Tidak sembarang orang bisa menarikannya, karena tarian ini biasanya dilakukan oleh para gadis keturunan bangsawan. Tidak tahu pasti apakah dengan berlalunya sang waktu ada perubahan pada pemeran tari ini. 7. Tari Lumense Tari Lumense via Termasuk golongan tarian dari daerah Sulawesi Tenggara, tepatnya tarian ini berasal dari Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana. Arti dari tarian ini adalah pemujaan kepada sang Dewa. Tarian ini dipersembahkan pada upacara penyambutan tamu pesta-pesta rakyat di Kabupaten Bombana. Kata Lumense sendiri berasal dari kata Lume dalam bahasa daerah yang berarti “terbang” dan mense yang berarti “tinggi”, sehingga jika diartikan Lumense memiliki arti Terbang Tinggi. Selain itu, tarian ini pada zaman dahulu dilakukan pada ritual pe-olia, yaitu ritual penyembahan roh halus yang disebut kowonuano dengan cara menyajikan beraneka jenis makanan. Konon, ritual ini bertujuan agar kowonuoano berkenan mengusir bencana alam dan marabahaya yang akan terjadi. Tidak tahu sekarang, tetapi tarian ini sering ditampilkan pada masa pemerintahan kesultanan Buton. 8. Tari Moida-ida Tari Moida-ida adalah tarian daerah yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara. Tarian ini diiringi dengan nyanyian dan alat musik tradisional, sementara sekelompok orang berkumpul membentuk lingkaran dan masing-masing berpegangan pada seutas tali sehingga membentuk cincin. Penampakan cincin sangat jelas dilihat oleh penonton jika dari atas. Tidak tahu pasti apa maksud dari cerita cincin pada tarian ini. Mungkin maksudnya adalah seorang pria yang hendak melamar wanita dengan mahar cincin. Jika pembaca mempunyai informasi lebih mengenai tari Moida-ida ini, silahkan tulis di kolom komentar ya. 9. Tari Balumpa Tari Balumpa via Tari Balumpa juga merupakan tarian tradisional rakyat Buton dan Wakatobi Binongko, Sulawesi Tenggara. Fungsi tari ini bertujuan untuk mengucapkan selamat datang kepada tamu agung. Selain itu, Tari Balumpa merupakan tarian yang mencerminkan kegembiraan masyarakat nelayan Buton dan Wakatobi Binongko dalam menghadapi terjangan ombak demi menghidupi keluarga. Jumlah orang dalam memainkan tarian ini biasanya dimainkan oleh enam sampai delapan penari laki-laki dan perempuan secara berpasangan. Namun tarian ini juga dapat dilakukan oleh penari pasangan perempuan saja. Penari Balumpa mengenakan busana adat Wakatobi dengan iringan musik gambus dan gendang serta iringan suara dendang biduan Balumpa. 10. Tari Dinggu Tari Dinggu via Tari Dinggu adalah tarian adat tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara yang merupakan tarian tradisional rakyat yang menggambarkan sifat kegotongroyongan masyarakat Tolaki. Gotong royong dilakukan masyarakat ketika saat musim panen padi tiba. Pada umumnya, tarian ini biasanya ditampilkan oleh penari laki-laki dan wanita dengan mengenakan busana petani pada zaman dahulu. Sejarah menyatakan bahwa tarian ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki yang melakukan panen padi dengan cara bergotong-royong, mulai dari memetik padi hingga membawa hasil panenan padi sampai di rumah. Setelah panen selesai dan terkumpul semua, diadakan sebuah acara modinggu, yaitu bersama-sama menumbuk padi hasil panen yang dilakukan oleh muda-mudi. Baca Tari Sajojo Demikian informasi mengenai tarian tradisional daerah Sulawesi Tenggara kami sampaikan. Semoga memberikan manfaat kepada pembaca yang mencintai budaya Indonesia. Jika ada kesalahan dalam penulisan, silahkan kritik kami melalui laman komentar. Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih. Ilustrasi Mengenal Tari Pakarena, Seni Tari asal Sulawesi Selatan. Sumber adalah sebuah negara yang kaya akan keberagaman seni dan budayanya. Salah satu cabang seni pertunjukan yang beragam di Indonesia adalah seni tari. Seni tari tradisional pada masing-masing wilayah di Indonesia memiliki keunikannya tersendiri dengan berbagai gerakan, iringan tari, properti, dan pakaian tari yang mendapat pengaruh dari budaya daerah asal. Salah satu seni tari yang terkenal di Indonesia adalah Tari Pakarena yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan. Tari Pakarena adalah tarian yang terkenal karena keindahan dan keunikan gerakannya. Supaya lebih mengenal Tari Pakarena, kita akan membahas Tari Pakarena dalam artikel berikut ini. Ilustrasi Mengenal Tari Pakarena, Seni Tari asal Sulawesi Selatan. Sumber Tari Pakarena dari Sulawesi SelatanBerikut ini adalah penjelasan mengenai Tari Pakarena yang bersumber dari buku Seni Budaya dan Keterampilan SD 4 oleh Dedi Nurhadiat 2008 44-45.Tari Pakarena berasal dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ada sebuah cerita di balik tarian ini, yaituPada suatu hari Bata Guru datang ke dunia. Dia mengajarkan kepada manusia tata cara kehidupan seperti bertani, bertenun, dan adat istiadat. Sebagai tanda terima kasih atas ajaran yang telah diberikan, manusia mempersembahkan tarian kepada Batara Guru. Tarian tersebut berisi tata cara kehidupan yang diajarkan Batara Guru kepada dari situs dalam pementasannya, Tari Pakarena dimainkan oleh 4 penari dengan diiringi alat musik berupa gandrang dan puik-puik. Gandrang adalah alat musik yang terbuat dari kepala drum sedangkan puik-puik adalah alat musik tiup yang mirip dengan seruling. Pakaian penari Pakarena terdiri atas simak-simak ikat lengan, tiger'ro tedong leher kerbau atau gelang panjang, gelang caddi gelang kecil, geno kalung, kipassa kipas, bunga warna-warni, baju baju pendek atau panjang, selendang, dan lipa sab'be kain sutra.Untuk hiasan kepalanya terdiri dari kutu-kutu semacam bando, bunga pute kuncup melati, sanggul simpolong tettong konde berdiri, dan bangkara anting-anting.Demikian penjelasan mengenai Tari Pakarena, seni tari asal Sulawesi Selatan. Semoga dapat menambah wawasan anda mengenai seni tari tradisional di Nusantara. Semoga kita semua dapat melestarikan kesenian tari tradisional sebagai bagian dari kekayaan tradisi di Indonesia. IND Tarian Sulawesi Selatan – Sulawesi Selatan memiliki penduduk serta latar belakang heterogen seperti Suku Bugis, Suku Mandar dan Suku Makassar yang sangat dominan. Setiap suku tersebut juga punya ciri khas adat istiadat serta kebudayaan yang berbeda beda. Dikatakan jika ada 316 jenis tarian adat Sulawesi Selatan. 98 tarian merupakan tarian Bugis, 66 tarian Makasar, 116 tarian Mandar dan 36 tarian Toraja. Agar lebih jelas, berikut kami berikan beberapa tari Sulawesi Selatan yang paling terkenal. Daftar Nama Tarian Sulawesi SelatanTari ManimbongTari Pa’gelluTari PakarenaTari PattennungTari Ma’randingTari Ma’badongTari Pa’pangnganTari Gandrang BuloTari BosaraTari Pajoge Tari Manimbong Tarian adat Sulawesi Selatan adalah tari manimbong yang hanya dipertunjukkan ketika upacara adat Rambu Tuka. Para penari adalah pria yang merupakan bentuk ungkapan rasa syukur pada Tuhan. Dalam pertunjukannya, tarian Sulawesi Selatan ini menggunakan kostum pakaian adat khusus bernama Baju Pokko serta Seppa Tallu Buku serta selempang kain antik. Para penari nantinya juga akan membawa parang kuno atau la’bo penai serta tameng bundar kecil bermotif ukiran khas Toraja. Tari Pa’gellu Tari Pa’gellu adalah tarian dari Sulawesi Selatan khususnya Tana Toraja yang biasanya tampil sebagai rangkaian upacara adat Pa’gellu atau ma’gellu yang berarti menari dengan gembira, sambil menggoyangkan tangan dan badan dengan gemulai, meliuk liuk lenggak lenggok. Tarian ini bertujuan untuk menghibur penonton sekaligus menjadi ungkapan rasa gembira dan sukacita. Gerakan dari tarian Sulawesi Selatan ini menceritakan semangat, keseimbangan sopan santun dan kebersamaan. Untuk upacara rambu tuka atau syukuran akan ditampilkan tari pa’gellu dengan meriah. Sedangkan untuk upacara kematian rambu solo maka menjadi tabu untuk ditampilkan. Tari Pakarena Tari pakarena merupakan tarian daerah Sulawesi Selatan yang diiringi dengan dua kepala gandrang atau drum serta sepasang instrumen alat musik seperti puik puik atau suling. Tari ini pertama kali ada di abad ke-17 tahun 1903 pada saat Panali Patta Raja dilantik menjadi Raja Gantarang Lalang Bata. Meski memang tidak ada data pasti kemunculan tarian ini, namun masyarakat setempat beranggapan jika tari ini memiliki hubungan dengan Tumanurung. Dalam kepercayaan masyarakat, Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit. Tumanurung ini memiliki tugas untuk memberikan petunjuk bagi manusia di bumi. Tari Pattennung Ini merupakan tarian yang berasal dari Sulawesi Selatan yang berkisah tentang wanita Sulawesi Selatan ketika sedang menenun. Tari pattennung juga menggambarkan kesabaran serta ketekunan para wanita Toraja dalam menenun benang hingga akhirnya membentuk kain. Tarian Sulawesi Selatan ini memakai pakaian khas yakni baju bodo panjang, lipaq sabbe atau sarung, curak lakba, rante ma’bule, pontoyang dan juga hiasan bangkara serta properti berupa sarung lempar. Ketika tarian ini dilakukan, maka akan diiringi juga dengan alat musik tradisional seperti gendang dan juga suling. Tari Ma’randing Tarian khas Sulawesi Selatan bernama ma’randing biasanya akan dipentaskan ketika pemakaman besar seperti orang dengan kasta yang tinggi. Penari akan mengenakan pakaian perang tradisional sambil membawa senjata sehingga tari ini merupakan tari perang atau tari patriotik. Kata ma’randing sendiri diambil dari kara randing yang berarti mulia ketika melewatkan. Dalam tarian ini akan diperlihatkan kemampuan menggunakan senjata militer sekaligus memperlihatkan keteguhan hati serta kekuatan seseorang yang sudah meninggal tersebut. Tarian Sulawesi Selatan ini dilakukan beberapa orang yang membawa perisai besar, pedang dan beberapa ornamen lain. Setiap benda tersebut merupakan simbol dengan makna tertentu seperti perisai dari kulit kerbau atau bulalang sebagai simbol kekayaan karena hanya orang kaya yang memiliki kerbau sendiri. Sementara pedang atau la’bo bulange, la’bo pinai, dokter atau la’bo todolo menjadi simbol kesiapan dalam berperang serta keberanian. Tari Ma’badong Tari ma’badong adalah nama tarian Sulawesi Selatan yang biasanya dilakukan pada Rambu Solo atau upacara kematian. Tarian ini dilakukan berkelompok dimana pa’bodong atau peserta akan membentuk lingkaran lalu saling berpegangan dengan mengaitkan jari kelingking mereka. Para pa’badong dalam tarian Sulawesi Selatan ini umumnya merupakan pria dan wanita setengah baya atau orang tua dengan pemimpin badong yakni Indo Badong untuk wanita atau Ambe Badong untuk pria. Pemimpin badong kemudian akan melantunkan Kadong Badong atau syair seperti riwayat hidup dari orang yang baru saja meninggal dari mulai dilahirkan hingga meninggal. Sementara untuk nyanyian akan dilakukan saling berbalas dan gerakan memiliki ritme sesuai dengan syair badong yang sedang dilantunkan. Tari Pa’pangngan Tarian Sulawesi Selatan beserta gambarnya yang akan kami ulas adalah tari pa’pangngan yang umumnya dilakukan para gadis cantik memakai pakaian gelap atau hitam serta ornamen khas Toraja seperti kandaure. Pangngan Ma adalah menari ketika menerima tamu kehormatan sekaligus menyambut kata kata Tana Mo Pangngan Mali’ki, yaitu Kisorong sorong mati Solonna pengkaboro’ki Rande pela’i toda Mala’bi tanda kiala Ki po tannu matoto. Kata pangngan memiliki arti sirih yakni penawaran sirih memperlihatkan jika tamu yang sedang datang tersebut sudah diterima dan dianggap bagian dari mereka. Penawaran ini akan diungkapkan setiap penari secara simbolis dengan memegang pangngan atau sirih. Sepanjang tarian dilakukan, maka pangngan atau sirih itu akan ditempatkan dalam kantong di depan mereka. Tari Gandrang Bulo Nama tarian dari Sulawesi Selatan ini adalah tari gandrang bulo yang berasal dari dua kata yakni gandrang dan bulo. Gandrang memiliki arti pukulan atau tabuhan dan bulo memiliki arti bambu. Tarian ini biasa ditampilkan beberapa orang dengan suasana ramai dan ceria diiringi tabuan gendang dan tabuan bambu. Ketika ditampilkan, biasanya akan diberikan dialog kritis namun sangat menghibur seperti masalah sosial, politik dan juga budaya. Tarian Sulawesi Selatan ini biasanya digunakan seniman untuk mengeluarkan keluh kesah mengenai sesuatu yang juga sering digunakan masyarakat untuk merespon kondisi sosial di sekitar. Tari Bosara Tari bosara merupakan tarian asal Sulawesi Selatan yang diperuntukkan menyambut tamu kehormatan. Dari sejarah, tari ini biasa dilakukan pada acara penting menjamu raja dengan suguhan kue sebanyak 2 kasera. Tari ini juga sering ditampilkan ketika menyambut tamu aging, pesta kebiasaan serta pesta kawin sehingga seringkali dipertunjukkan untuk ucapan rasa syukur, hormat dan menyambut kehadiran tamu. Tari Pajoge Tarian Sulawesi Selatan ini biasanya diperlihatkan di istana atau kediaman kalangan ningrat. Para penari sendiri adalah gadis dari kalangan rakyat biasa yang berguna sebagai tari hiburan para pria. Penonton dari kalangan ningrat akan duduk membentuk lingkaran dan penari kemudian menari secara melingkar sambil menyanyi dan mencari pasangan di tengah penonton. Ketika sudah menemukan pasangan, penari tersebut akan memberikan daun sirih pada pria yang sudah dipilih dan pria tersebut akan ikut menari bersama gadis tersebut. Untuk itulah, tari pajoge ini dijadikan sebagai tarian hiburan sekaligus media penghubung antara raja dan rakyat agar hubungan bisa semakin dekat dan raja semakin dicintai rakyatnya. Dari catatan sejarah, tarian ini sudah ada sejak Kerajaan Bone dan ada juga yang mengatakan sudah ada sejak abad ke-VII. Umumnya penari yang dipilih memiliki paras cantik dan mempunyai kelebihan yang bisa menarik perhatian baik raja atau rakyat. Para penonton nantinya diberikan kesempatan untuk Mappasompe pada salah satu Pajoge yang ia inginkan. Selain itu, ketentuan dalam tarian ini adalah setiap pria yang ingin Mappasompe maka harus memberikan uang atau benda lain. Tarian adat dari daerah Sulawesi Selatan sangat menarik untuk dibahas pada kesempatan kali ini. Pembahasan agar lebih lengkap maka kami hadirkan informasi terkait lainnya, seperti gambar dan penjelasannya yang ditemukan dari berbagai sumber. Tari yang ada di wilayah propinsi Sulawesi Selatan banyak mengandung pesan yang disampaikan secara tersirat mengenai realitas masyarakat setempat, baik kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat. Sulawesi Selatan yang beribukotakan Kendari ini mempunyai kesenian tari tradisional yang bisa dibilang lengkap. Hanya saja volume pertunjukkannya ada yang mengalami penurunan intensitas. Tidak tahu apa penyebabnya, apakah karena invasi budaya asing atau memang lemahnya kesadaran generasi sekarang. Untuk pelestarian tari, maka dibutuhkan strategi yang tepat sasaran. Pemerintah dan masyarakat umum harus menjalin kerjasama yang baik demi eksistensi kebudayaan nusantara ini. Tarian Sulawesi Selatan datang dari daerah 15 kabupaten dan 2 kota, salah satunya kota Kendari. Ada isu pemekaran di daerah Sulawesi Tenggara menjadi dua propinsi. Namun sampai saat ini belum juga terealisasi. Mengulas kesenian tari yang ada di daerah – daerah, maka akan lebih baik jika melakukan perbandingan studi komparatif antara satu daerah dengan daerah yang lain. Karenanya, kami sudah menulis beberapa waktu yang lalu tentang tarian adat Sulawesi Barat, tarian adat Sulawesi Tengah dan tarian adat Sulawesi Utara serta tarian adat Sulawesi Selatan. Hal ini berguna untuk Anda yang ingin secara lengkap mengetahui kebudayaan tari yang ada di pulau Sulawesi. Beberapa Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara Yang Pernah Ada 1. Tari Adat Dinggu 2. Tari Adat Mowindahako 3. Tari Adat Umoara 4. Tari Adat Malulo 5. Tari Adat Galangi 6. Tari Adat Lariangi 7. Tari Adat Lumense 8. Tari Adat Moida-ida 9. Tari Adat Balumpa 10. Tari Adat Mangaru 11. Tari Adat Lulo Akankah Tarian Adat Daerah Sulawesi Selatan Tetap Ada? Gallery 11+ Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara, Video dan Gambar Serta PenjelasanRelated posts Beberapa Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara Yang Pernah Ada Data berikut ini merupakan hasil rangkuman dari sumber – sumber yang kami dapatkan. Selamat menyimak! 1. Tari Adat Dinggu Tari Adat Dinggu Youtube Tari adat Dinggu adalah tarian rakyat yang menggambarkan sifat kegotongroyongan masyarakat Tolaki ketika musim panen padi. Pada umumnya, tarian ini ditampilkan oleh penari laki-laki dan wanita dengan memakai busana petani pada zaman dahulu. Merujuk pada sejarah, seni tari ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki yang melakukan panen padi dengan cara bergotong-royong. Usai proses panen padi selesai dan terkumpul semua, maka dilaksanakan sebuah acara Modinggu, yaitu bersama-sama menumbuk padi hasil panen. Proses ini melibatkan kaum pemuda dan pemudi yang ada. 2. Tari Adat Mowindahako Tari adat Mowindahako dilaksanakan hanya bagi bangsawan atau anakia, tidak semua lapisan masyarakat dapat melaksanakannya. Syarat pelaksanaannya apabila suatu pinangan mereka sudah diterima. Sebagai wujud rasa senang digelarlah tarian Mowindahako. Tarian ini persis dengan kegiatan pada saat upacara adat perkawinan. Seperti memakai kalo, siwole dan menirukan model percakapan antara juru bicara laki-laki dan perempuan. 3. Tari Adat Umoara Tari Adat Umoara Youtube Tari adat Umoara ialah salah satu tarian tradisional Sulawesi Tenggara yang identik dengan kepahlawanan. Ya, tari ini berupa tari perang yang ditarikan untuk menyambut tamu agung pada saat perkawinan para bangsawan dan mengantar jenazah bangsawan. Selain itu, ketika raja dilantik, maka tarian ini juga hadir dalam pertunjukkan. Pesan yang disampaikan dari tarian ini adalah ketangkasan, kewaspadaan dalam menyerang musuh, dan membela diri dalam pertempuran. 4. Tari Adat Malulo Tari Adat Malulo Telukbone Tarian adat Malulo pada mulanya merupakan tarian sakral dan penuh dalam perkembangannya Malulo saat ini menjadi tarian pergaulan atau tarian rakyat. Pertunjukkannya pun dilakukan dengan cara spontan pada setiap acara baik itu acara pesta ataupun acara-acara yang dilaksanakan oleh instansi-instansi pemerintah – swasta atau organisasi. Tari Malulo sangat digemari oleh suku bangsa Tolaki yang ditarikan pada waktu-waktu tertentu dengan jenis tarian Malulo tertentu pula. Momen yang sering dipakai untuk pertunjukkan tarian ialah saat usai panen atau bila terjangkit suatu wabah penyakit menular. Malulo Ore-Ore adalah salah satu jenis tarian yang diiringi bunyi-bunyian yang disebut Ore-Ore yang dibuat dari bambu. Sejatinya tarian ini ditarikan saat menjelang musim panen guna menghormati dewi panen berdasarkan keyakinan masyarakat setempat. 5. Tari Adat Galangi Tari Adat Galangi zonasultra Tari adat Galangi merupakan tarian yang asalnya dari kepulauan Buton Raya provinsi Sulawesi Tenggara. Tari ini khas dengan Tari Perang dalam Kerajaan/ Kesultanan Galangi menggambarkan pasukan melawan musuh dengan memakai senjata perang yang bernama Gala. Selain itu, dalam suasana damai tari ini juga digelar, hanya saja fungsinya sebagai kelengkapan kebesaran, keagungan serta kemulian Sultan. Tari ini dimainkan untuk mengiringi Sultan pada saat keluar istana dalam suatu tugas atau menyambut dan mengantar tamu Kesultanan. Jumlah penari pada tarian Galangi ini terdiri dari sebelas kelompok, pada tiap – tiap kelompok terdiri dari tujuh orang. Di zaman dahulu kelompok tersebut bertugas guna mempertahankan Kerajaan/ Kesultanan bila ada serangan dari luar. Sedang dalam keadaan aman, masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda-beda. 6. Tari Adat Lariangi Tari Adat Lariangi Kompas Tari adat Lariangi adalah tarian yang digelar dan fungsinya sebagai tari pembukaan suatu acara pesta pertemuan sebagai penghormatan terhadap tamu yang hadir. Tamu yang datang adalah dari kerajaan didaerah lain. Jumlah penarinya pun tidak banyak, beda dengan tarian lain. Pada tari Lariangi ini ditarikan oleh para penari wanita dan satu laki-laki. Ada syarat yang berat untuk jadi penarinya, yaitu haruslah para gadis keturunan bangsawan. 7. Tari Adat Lumense Tari Adat Lumense Kemdikbud Asal Tarian adat Lumense dari daerah kecamatan Kabaena, kabupaten Bombana. Peujaan terhadap sang dewa adalah makna dari tari ini. Tarian ini dipertontonkan pada upacara penyambutan tamu pesta-pesta rakyat di Kabupaten Bombana. Kata Lumense sendiri berasal dari kata Lume dalam bahasa daerah yang berarti “terbang” dan mense yang berarti “tinggi”, sehingga dapat disimpulkan Lumense mempunyai arti Terbang Tinggi. Pada zaman dahulu, tarian ini dilakukan pada ritual pe-olia, yaitu ritual penyembahan roh halus yang disebut kowonuano dengan cara menyajikan beraneka jenis makanan. Ritual ini bertujuan agar Kowonuoano berkenan mengusir bencana dan marabahaya. Tarian ini sering ditampilkan pada masa pemerintahan kesultanan Buton. 8. Tari Adat Moida-ida Tari adat Moida-ida ini saat pertunjukkanya diiringi dengan nyanyian dan alat musik tradisional. Para penari yang ditugaskan kemudian berkelompok dan berkumpul membentuk lingkaran. Masing – masing dari mereka saling berpegangan pada seutas tali sehingga membentuk cincin. Unik bukan? 9. Tari Adat Balumpa Tari Adat Balumpa Google Image Tari adat Balumpa merupakan tarian rakyat Buton dan Wakatobi Binongko, Sulawesi Tenggara untuk mengucapkan selamat datang kepada tamu agung. Tari ini merupakan tarian yang menggambarkan kegembiraan masyarakat nelayan Buton dan Wakatobi Binongko dalam menghadapi terjangan ombak dilaut demi menghidupi keluarga. Pada umumnya, tarian ini dimainkan oleh enam sampai delapan penari laki-laki dan perempuan secara berpasangan. Namun tarian ini juga dapat dilakukan oleh penari pasangan perempuan saja. Pada pertunjukkannya, penari Balumpa memakai busana adat Wakatobi dengan iringan musik gambus dan gendang serta iringan suara dendang biduan Balumpa. 10. Tari Adat Mangaru Tari adat Mangaru ialah tari tradisional yang asalnya dari Desa Konde Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Tarian ini menggambarkan keberanian laki-laki pada zaman dahulu saat berlaga di medan peperangan, yaitu bercerita tentang dua orang laki-laki yang sedang dalam medan peperangan. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan kepada para penonton bagaimana kedua laki-laki yang saling beradu kekuatan dengan memakai sebilah keris yang dipegang. Agar lebih semarak, tari Mangaru diiringi oleh alat musik tradisional yaitu kansi-kansi, Mbololo gong dan dua buah gendang yang terbuat dari kulit binatang. Alat musik tradisional dimainkan oleh orang yang memang mahir dalam memainkannya berjumlah empat orang. Irama musik pengiring tari ini berbeda dengan musik pengiring tari yang lain walaupaun alat yang digunakan sama. Pada umumnya, Tari Mangaru dipertunjukan pada berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Tarian ini memang sudah jadi budaya bagi masyarakat desa Konde sehingga sering dilaksanakan saat pesta panen tiba. Selain itu, fungsi tari ini yaitu untuk mengumpulkan warga kampung di satu tempat guna menjalin silaturahmi. 11. Tari Adat Lulo Tari Adat Lulo adalah tari yang berasal dari Tokotua, kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Tari Lulo ini digelar dalam rangka ritual adat karena melimpahnya rezeki yang didapat melalui hasill panen. Sebuah tari yang menyimbolkan tentang rasa syukur. Umur tari ini sudah lama, yaitu sejak zaman pemerintahan kerjaan kesultanan Buton, dimana beras sebagai hasil pertanian Tokotua untuk memperkuat pilar perekonomian Kesultanan Buton. Jumlah penari yang ditugaskan terdiri dari 12 orang yang dibagi dalam 2 kelompok. Delapan penari putra memegang alu Penumbuk Padi dan empat orang penari perempuan memegang nyiru sebagai alat penapis gabah, ditambah sapu tangan yang menggambarkan proses penapisan gabah. Ada pun kostum yang dipakai pada tari tersebut merupakan ciri khas Kabaena. Warna dominan pada pakaian adalah dasar hitam dan wama kekuning-kuningan serta kemerah-kemerahan. Saat pertunjukkan, banyak alat musik tradisional yang mengiringinya guna menghidupkan suasana. Salah satu alat musik yang dipakai adalah Kendang. Baca juga Tari Adat Maluku Akankah Tarian Adat Daerah Sulawesi Selatan Tetap Ada? Pertanyaan ini harus kita sampaikan, mengapa? Karena sudah banyak budaya asli Indonesia yang tinggal sejarah. Padahal kita sebagai generasi yang mendapat warisan sejarah tinggal melestarikan saja, itu pun tidak bisa. Belum lagi ada tradisi Inondesia yang di klaim oleh negara tentangga dan kita tidak mampu menangkalnya. Sangat disayangkan. Untuk bertahannya eksistensi tarian Sulawesi Tenggara, maka mau tidak mau harus melibatkan pemerintah untuk pro aktif dalam kebijakannya. Persulit budaya asing masuk ke Indonesia atau proses imunitas dilakukan dengan cara yang efektif. Kita yakin pemerintah sudah tahu apa yang akan dilakukan. Hanya saja pemerintah mau atau tidak. Ini yang jadi persoalan. Masyarakat harus mengawal kinerja pemerintah. Semoga saja anak cucu kita di masa depan masih bisa mengenal dan menikmati apa saja budaya Indonesia. Bukan sebaliknya. Akhirnya kami meyakini para pembaca sudah mengenal tentang tarian adat daerah Sulawesi Tenggara. Jika mau menambahkan atau memberikan koreksi kepada kami, dengan senang hati kami menyambutkan. Saran, kritik atau masukan dapat disampaikan pada kolom komentar dibawah. Terima kasih sudah mampir. Gallery 11+ Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara, Video dan Gambar Serta Penjelasan Tarian Sulawesi Selatan – Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sulawesi yang beribu kota di Makassar. Sulawesi Selatan mempunyai luas wilayah Km dengan kepandatan penduduk mencapai jiwa. Di daerah Sulawesi Selatan juga telah menyimpan ragam kuliner dan juga makanan khas yang dapat disantap maupun untuk destinasi tempat wisata yang dapat dikunjungi ketika berlibur. Sulawesi Selatan juga masih sangat kental dengan adat istiadat dan nilai-nilai budaya dengan beragam etnis atau suku yang berada di daerah Sulawesi Selatan ini. Nilai budaya dan juga adat dari Sulawesi Selatan salah satunya yaitu dari tarian tradisional. Dengan adanya penjelasa, dan gambar Anda akan mudah untuk memahami serta mendapatkan gambaran yang jelas tentang contoh-contoh tari yang ada di perovinsi Sulawesi Selatan. Hari jadi kota Makassar yang dikenal sebagai ibu kota Sulawesi Selatan jatuh pada tanggal 19 Oktober 1960 dan juga dampaknya banyak sejarah yang terjadi pula di wilayah tersebut. Sejak pada saat itu, Makassar menjadi daerah yang mempunyai ragam ciri khas, baik itu dari segi sosial masyarakat, suku, budaya, agama, peribadatan, perdagangan, ekonomi dan juga kesenian daerah yang termasuk tarian adat di Sulawesi Selatan didalamnya. Macam – macam Tarian Sulawesi Selatan1. Tari Adat Ma’badonga. Syarat digelarnya Tari Badong2. Syair Lagu Badong2. Tari Adat Ma’Gellu3. Tari Adat Pa’Pangngan4. Tari Adat Pa’gellu5. Tari Adat Pajoge6. Tari Adat Pattennung7. Tari Adat Gandrang Bulo8. Tari Adat Bosara9. Tari Adat Kipas PakarenaA. Properti Tari Kipas Pakarena10. Tari Adat Ma’randing11. Tari Adat Pakkuru Sumange12. Tari Adat ManimbongPenutup Macam – macam Tarian Sulawesi Selatan sumber Tarian adat Sulawesi Selatan tidak bisa dipisahkan dari kesatuan budaya nusantara. Yang harus dapat dipahami yaitu tarian tersebut menjadi pelengkap dari tarian-tarian daerah lainnya, baik tarian yang ada di Pulau Sulawesi dan juga pulau Sumatera bahkan di Jawa, tidak ketinggalan pulau pulau Kalimantan dan Papua. Ini yang dapat membuat Indonesia merupakan Negara kaya, baik dari sisi sumber daya alam maupun dari kebudayaannya. Kekayaan ini tidak dapat diukur dari materi semata. Yang kemudian menjadi sebuah pertanyaan, bagaimana dengan kekayaan pada sumber daya manusia Indonesia. Banyak sekali pesan yang tersirat pada tarian daerah Sulawesi Selatan. Fungsi dari seni tari ini yaitu untuk menggambarkan tentang realitas masyarakat setempat, atau dalam bahasa lain ppotret real masyarakat, baik di dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Bahkan tidak jarang tarian yang disajikan menyampaikan pesan tentang peperangan melawan para musuh. Baiklah, langsung saja kita akan membahas tentang tarian adat daerah Sulawesi Selatan yang sudah kami himpun dari berbagai macam sumber yang ada di media sosial. 1. Tari Adat Ma’badong sumber Tari Ma’badong merupakan salah satu tarian adat Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tarian Ma’Badong ini digelar pada upacara kemarian Rambu Solo’ yang telah dilaksanakan secara berkelompok, para peserta penari Ma’badong membentuk lingkaran dan juga saling berpegangan dengan mengaitkan jari kelingkingnya. Para peserta tari yang terdiri dari pria dan juga wanita setengah baya atau para orang tua dengan pemimpin Badong yang biasa disebut dnegan Indo’ Badong perempuan atau Ambe’ Badong laki-laki Pemimpin Badong akan melantunkan syair Kadong Badong0 atau semacam riwayat hidup dari orang yang sudah meniggal mulai dari lahir sampai ia wafat dengan cara memberikan kalimat-kalimat syari dan juga modus nada untuk dinyanyikan oleh semua kelompok penari sambil berbalas-balasan. Gerakannya pun memiliki ritme tersendiri yang mengikuti syair dari badong yang sudah dilantunkan tadi. a. Syarat digelarnya Tari Badong Berikut ini adalah syarat akan digelarnya tari Badong tersebut 1. Jumlah Penari Harus Lima Orang Tidak boleh lebih apalagi kurang dari lima orang. Jumlah inilah yang sudah menjadi sebuah tradisi dari dahulu hingga sekarang ini. Harus adanya kesepakatan bersama untuk mengurangi jumlah penari. Sampai tulisan ini diturunkan, kami tidak mengerti lagi kenapa harus berjumlah lima orang. 2. Syair Lagu Badong Adalah syair yang sudah terstruktur sesuai dengan keempat fungsi yang ditambahkan dengan riwayat hidup dari orang yang sudah meninggal. Tidak boleh syair yang di tampilkan yaitu syair yang tidak selaras dengan adat yang sudah berlaku. 2. Tari Adat Ma’Gellu Pada awalnya, tarian Ma’gellu ini dikembangakan pada Distrik Pangalla’, sekitar 45 km ke arah timur dari kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara yang terletak di provinsi Sulawesi Selatan. Biasanya tarian ini dapat dipentaskan dalam acara upacara adat khusus yang biasa disebut dnegan Ma’Bu’, yang berkaitan dengan upacara pentasbihan rumah adat Toraja atau Tongkonan, atau keluarga penghuni tersebut telah melakukan upacara Rambu Solo’ yang sangat besar atau Rapasaan Sapu Randanan. Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini tarian Ma’gellu’ juga dapat dipertunjukan pada upacara kegembiraan misalnya pesta perkawinan, acara penerimaan tamu terhormat, dan juga syukuran panen. Fungsi dari tari adat ini dapat berubah dari waktu ke waktu. Hal ini dapat disebabkan banyak faktor yang telah mempengaruhinya. Salah satunya yaitu faktor geo sosial dan juga politik suatu daerah. Baca juga Upacara Adat Jawa Timur 3. Tari Adat Pa’Pangngan Tari adat Pa’pangngan merupakan salah satu kesenian daerah Sulawesi Selatan yang dipraktekkan oleh para gadis cantik yang mengenakan baju hitam atau gelap dan juga menggunakan ornamen khas Toraja misalnya Kandaure. Pangngan Ma adlaah menari pada saat menerima tamu-tamu terhormat dan juga untuk menyambut dengan kata-kata Tanda Mo Pangngan Mali’ki. Maksud dari Pangngan adalah Sirih dimana kata-kata dan juga penawaran sirih yang menunjukan nilai ditempatkan pada kunjungan dan juga menegaskan bahwa para tamu telah diterima dan sekarang sudah dianggap sebagai bagian dari masyarakat Toraja. Penawaran ini secara simbolis dinyatakan oleh masing-masing penari yang memegang sirih pangngan yang dalam perjalanan tarian, ditempatkan di dalam kantong di depan mereka. Kantong tersebut digunakan oleh wanita lansia kebanyakan di daerah desa-desa dan juga mengandung bahan untuk sirih menguyah sirih pinang campuran tersebut. 4. Tari Adat Pa’gellu Tari adat ini pada umumnya akan dapat dipentaskan di dalam rangkaian upacara adat Palgellu atau Ma’gellu, yakni di dalam bahasa setempat mempunyai arti menari-nari dengan gembira, sambil tangan dan juga badan bergoyang dengan gemulai, meliuk-liuk dan juga melenggak-lenggok. Para hadirin yang datang juga tampak gembira menyaksikannya, dan juga kegembiraan tersebut telah meliputi semuanya. Fungsi dari seni Pa’gellu yaitu dipertunjukan pada saat upacara adat yang sifatnya gembira misalnya syukuran rumah dan juga penyambutan para tamu yang datang dari luar daerah. 5. Tari Adat Pajoge Pada umumnya tari Pajoge ini dapat ditampilkan di istana atau kediaman kalangan ningrat. Penarinya yaitu pata gadis yang berasal dari kalangan rakyat biasa. Asal mula tarian ini hanya bentuk hiburan bagi kaum lelaki. Para penonton, umumnya berasal dari kalangan ningrat, duduk dalam lingkaran, para penari akan menari melingkat. Pada saat pertunjukannya, penari menari dengan seorang diri sambil menyanyi dan juga mencari pasangannya di antara penonton tersebut. Kemudian penari akan memberikan dauh siirh kepada lelaki yang sudah dipilihnya. Lelaki tersebut lantas akan menari dengan sang gadis. Selain sebagai salah satu tarian hiburan, tarian ini juga menjadi alat komunikasi dan juga penghubung antara raja dan juga rakyat, untuk dapat mendekatkan hubungannya agar rakyat tetap cinta kepada rajanya dan juga sebaliknya. 6. Tari Adat Pattennung Pesan yang ada dari Tari Pattennung ini yaitu menceritakan tentang para wanita-wanita yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan yang sedang menenun. Ada sebuah pesan kesabaran dan juga ketekunan serta bagaimana gigihnya para perempuan Toraja Sulawesi Selatan yang menenun kumpulan benang menjadi sebuah kain. Adapun penari Pattennung ini memakai pakaian tradisional Sulawesi Selatan yakni berupa baju Bodo pandang, lipaq sabbe atau sarung, curak lakba, dan juga hiasan bengkara, rante ma’bule, ponto. Adapun beberapa properti yang digunakan adalah berupa sarung lempar. Kesenian daerah ini dapat diiringi dengan iringan instrument musik tradisional suling dan juga kendang untuk dapat menghidupkan suasana pertunjukan tari tersebut. Baca juga Ragam Gerak Tari 7. Tari Adat Gandrang Bulo Tarian adat Gandrang Bulo ini termasuk kedalam tarian daerah Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu simbol bagi seorang masyarakat Makassar. Pada umumnya, tari ini biasanya dilakukan pada saat ada pesta rakyat. Kata Gandrang sendiri berasal dari dua kata, yakni “gandrang” yang berarti tabuhan atau pukulan dan juga “bulo” yang berarti bambu. Tarian ini sudah dikenal sebagai simbol keceriaan dari masyarakat karena didalamnya telah diselipkan berbagai humor. Akibat humor tersebut, para penonton yang banyak tertawa. Konon, Gandrang Bulo ini sejatinya sekedar tarian yang diiringi oleh alat musik tradisional gendang. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini diiringi pula lagu-lagu jenaka, dialog-dialog humor namun sarat sebuah kritik dan juga ditambah gerak tubuh yang mengundang tawa. Terkadang pula diselipkan tari Se’ru atau tari Pepe Pepeka Ri Makka yang sering kali tampil sendiri di berbagai panggung pertunjukan. Meskipun demikian oleh masyarakat sekitar tetap saja ia dikenal sebagai bagian dari pertunjukan Ganrang Bulo. 8. Tari Adat Bosara Penampilan dari Tari Bosara ini dalam rangka untuk menyambut tamu kehormatan yang akan datang. Pada zaman dahulu kala, tari Bosara ini ditontonkan untuk mengisi acara penting untuk menjamu raja-raja dengan beberapa suguhan kue-kue tradisional sebanyak 2 kasera. Ternyata, selain memiliki fungsi sebagai sarana menyambut tamu raja, tarian Bosara ini pun digelar pada berbagai pesta misalnya sebuah pesta perkawinan. Kata Bosara ini sendiri telah menunjukan pada satu kesatuan utuh yang telah terbagi dalam piring, yang di atasnya di berikan alas kain rajutan dari wol, kemudian ditempatkan piring diatasnya juga sebagai tempat kue dan juga tutup dari Bosara. 9. Tari Adat Kipas Pakarena Tari Kipas Pakarena yang satu ini adalah salah satu tarian tradisional provinsi Sulawesi Selatan. Tari Pakarena berasal dari daerah Goa. Para penari wanita yang membawakan tarian ini memakai busana adat dan juga menari dengan gerakannya yang begitu khas serta memainkan kipas sebagai atribut menarinya secara serempak. Tari Kipas Pakarena ini biasa digelar pada berbagai acara yang bersifat adat maupun sebuah hiburan, bahkan tarian ini telah menjadi salah satu daya tarik wisata di provinsi Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Gowa. Pada pertunjukan Tari Kipas Pakarena ini sejatinya ditampilkan oleh 5-7 orang penari wanita. Dengan berbusana adat dan juga diiringi musik pengiring yang dimainkan dari alat musik tradisional yang biasa disebut dengan gondrong rinci. A. Properti Tari Kipas Pakarena Tari Kipas Pakarena ini sendiri dimulai dengan kisah para penghuni negeri khayangan yang terpisah dengan penghuni bumi pada zaman dahulu kala. Sebelum berpisah, para penghuni khayangan mengajarkan beberapa gerakan yang lalu dipakai sebagai cara untuk mengucap syukur. Berikut ini adalah beberapa properti tari kipas pakarena yang digunakan adalah sebagai berikut a. KIPAS Namanya juga tari kipas pakarena, sudah pasti kipas menjadi salah salah satu properti tar kipas pakarena yang wajib ada. Tanpa kipas tari tersebut bukanlah menjadi nama tari kipas. Kipas ini dipakai oleh masing-masing para pemain yang terdiri dari 5-7 orang. Kipas yang dipakai juga cukup besar dengan warna yang cerah. Pada umumnya kipas yang dipakai yaitu yang berwarna merah. b. KALUNG Properti dari tari kipas pakarena yang kedua yaitu kalung. Kalung umumnya berwarna kuning emas, dengan beberapa hiasan yang berupa mutiara warna-warni pada bagian dalamnya. Properti ini sebagai sebuah perhiasan untuk menambah kecantikan para penari. c. GELANG Gelang juga adalah salah satu properti dari tari kipas pakarena. Gelang sendiri memang banyak digunakan di dalam berbagai macam tarian. Untuk gelang ini umumnya berwarna emas dengan ukiran-ukiran disemua bagainnya. d. BAJU PAHANG Pernah mendengan baju Pahang? Baju Pahang adalah sebuah tenunan tangan yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan itu sendiri. Baju Pahang adalah salah satu busana dan juga sudah menjadi properti dari tari kipas pakarena. Kesan unik akan didapat pada saat seorang penari menggunakan baju Pahang tersebut. e. LIPA’ SA’BE Lipa’ sa’be adalah salah satu properti yang mana merupakan sarung sutra khas Sulawesi Selatan. Sarung sutra dengan corak yang khas daerah Sulawesi Selatan tersebut. 10. Tari Adat Ma’randing Tari Ma’randing adalah salah satu tarian tradisional provinsi Sulawesi Selatan yang biasa dipentaskan pada acara pemakaman besar biasanya orang dengan kasta tinggi. Kata Ma’randing ini berasal dari kata randing yang berarti “mulia ketika melewatkan” Tarian ini memamerkan kemampuan dalam memakai senjata tradisional Sulawesi Selatan dan juga dapat menunjukan keteguhan hati dan kekuatan seseorang yang meninggal selama hidupnya. Para penari memakai pakaian perang tradisional dan juga senjata. Kesenian ini secara mendasar merupakan sebuah tari partriotik atau tari perang. Tarian Ma’randing ini diperankan oleh sekelompok orang yang setiap orangnya membawa perisai besar, pedang, dan juga sejumlah ornamen. Ada arti yang tersirat banyak makna dari simbol yang ada. Perisai yang dibuat dari kulit kerbau atau bulalang ini menyimbolkan kekayaan, karena hanya orang kaya yang memiliki peliharaan kerbau sendiri. Pedang doke, la’bo’ bulange, la’bo pinai, la’bo todolo yang dapat menampilkan kesiapan untuk perang, yang dapat menyimbolkan keberanian didalam melawan para musuh di medan perang. Baca Juga Tarian Jawa Tengah 11. Tari Adat Pakkuru Sumange Tarian adat Pakkuru Sumange ini adalah tarian khas Soppeng. Sumange itu sukma, jadi Pakkuru Sumange adalah memanggil sukma. Tarian ini dapat menceritakan tentang kehidupan, supaya damai kehidupannya, tenang banyak rezekinya, dan juga diberkahi oleh Tuhan. Pasalnya, tidak ada jaminan berlimpah rezeki akan tetapi tidak diberkahi oleh Tuhan. Tarian adat Pakkuru Sumange ini umumnya dipentaskan sebagai tarian adat untuk dapat menyambut tamu yang menggambarkan salam sejahtera bagi tamu yang datang dan juga tuan rumah serta mohon doa restu, lambang persahabatan dan juga keakraban. Pakkuru Sumange mempunyai simbol tentang kehidupan, yaitu sebuah kedamaian, rezeki yang banyak dan juga berkah dari Tuhan. Simbol ini dapat di lihat dari sebuah perlengkapan tarinya. 12. Tari Adat Manimbong Tarian Manimbong adalah salah satu tarian yang hanya dapat ditampilkan secara khusus pada upacara adat Rambu Tuka’ oleh para penari pria. Sama halnya dengan tarian Rambu Tuka’ lainnya, tarian ini juga dapat diselenggarakan untuk dapat mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam pertunjukannya, para penari memakai pakaian adat khusus yakni Baju Pokko’ dan juga Seppa Talli Buku yang berselempang kain antik. Tidak hanya itu, meraka juga dilengkapi dengan beberapa parang kuno atau la’bo’penai dan juga sejenis tameng bundar kecil yang bermotif ukiran toraja. Penutup Sekarang Anda sudah mengetahui apa saja tarianada yang ada di daerah Sulawesi Selatan. Berikan beberapa koreksi jika ada temukan beberapa kesalahan dalam penulisan artikel ini. Anda dapat menuliskannya di laman komentar yang posisinya dibawah. Sekian dan terimakasih. Tarian Sulawesi Selatan

gambar tari dari sulawesi